Malam itu sehabis salat Isya’ Kang Guru langsung duduk manis di depan layar televisi. Acara favoritenya adalah dialog langsung calon presiden dan wakil presiden. Tidak dihiraukannya rayuan anak perempuannya yang mulai menginjak remaja agar ia mau memindah chanel. “Indosiar dong Yah. Saya mau nonton AFI. Sebentaar saja. Ayo dong,Yah”. Kang Guru menyahut tanpa menoleh ke arah putrinya, “Ayah lihat dari tadi kamu nongkrongin tv terus. Sekarang giliran ayah. Sana kamu belajar dulu!”. “Belajar apa Yah? Besok kan libur?”. “Eh bapak sama anak kok rebutan nonton tv?” terdengar suara istrinya Fauziyah menengahi keributan kecil itu. “Kamu nonton aja di rumah tante kamu, ya? Ayah kamu tidak bisa diganggu kali ini”. Dan keributan itupun berakhir.
Di layar tv tampak seorang kandidat capres yang sedang mengemukakan secara singkat, padat, dan tepat mengenai visi dan misinya seandainya ia nanti terpilih sebagai presiden RI. Dilanjutkan dengan dialog langsung dengan beberapa pakar dan mahasiswa yang hadir di acara itu. Acara ini bukan yang pertama kalinya Kang Guru ikuti. Sudah ada empat kandidat capres dan cawapres yang pada malam sebelumnya juga menguraikan visi dan misi mereka. Ada fenomena menarik yang ia tangkap saat mendengarkan para kandidat itu berbicara. Ada semacam kesamaan visi dan misi saat mereka ditanya mengenai langkah yang akan mereka ambil untuk membenahi pendidikan di negeri ini. Umumnya jawaban yang mereka berikan melambungkan angan-angan seorang guru kecil seperti dirinya. Harapan untuk melihat pencerahan pada pekerjaan yang telah ia tekuni selama bertahun-tahun untuk mendidik generasi harapan bangsa agar menjadi orang-orang yang siap mengarungi hidup dan membawa negeri ini keluar dari berbagai kemelut yang membelitnya terlihat semakin menyala saat ia melihat dan mendengarkan para tokoh harapan rakyat itu berbicara dengan tegas dan penuh percaya diri tentang komitmen mereka terhadap keberlangsungan pendidikan di Indonesia. Sejenak ia lupa dengan kondisi sekolah tempatnya mengajar yang begitu sangat sederhana dengan sarana prasarana yang seadanya. Di benaknya saat ini tergambar sebuah gedung sekolah yang telah direnovasi dan tidak bocor lagi saat musim hujan. Dan tampak pula di sana ia sedang menyampaikan materi dengan penuh semangat dengan menerapkan PAKEM yang didapatnya dari pelatihan yang dibiayai oleh pemerintah. Ia juga melihat senyum istrinya yang tampak semakin manis saat ia menyerahkan gaji bulanannya yang jumlahnya meningkat daripada sebelumnya.
“Tehnya, Mas”. Lamunannya sirna begitu didengarnya suara istrinya. Wanita ini begitu setia mendampinginya meskipun belanja bulanan yang ia berikan tidak menyisakan sepeserpun untuk membawanya berbelanja keperluannya sendiri seperti yang diinginkan kebanyakan perempuan lain. “Terima kasih Ya Tuhan karena engkau berikan dia sebagai pemacu semangat hidupku”, ia merasa sangat mensyukuri keberadaan wanita ini. Istrinya adalah anugerah terbesar yang sempat ia lupakan perannya. Ia begitu menyadarinya saat menemukan kenyataan salah seorang rekan kerjanya yang digugat cerai istrinya karena masalah ekonomi.
Sambil menikmati teh panasnya, ia kembali berkonsentrasi pada dialog di tv. Kali ini sang kandidat menekankan bahwa sudah saatnya anggaran belanja untuk pendidikan ditingkatkan. Ia menjelaskan bshwa paling tidak 20 persen dari APBN nanti akan dialokasikan ke dunia pendidikan meskipun pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. Anggaran pendidikan itu nantinya akan di alokasikan untuk merenovasi gedung-gedung sekolah yang sudah tidak layak pakai, untuk pemberdayaan guru, dan juga untuk peningkatan kesejahteraan mereka. Ia juga mengatakan bahwa sudah saatnya memerintah menerbitkan UU untuk guru, untuk melindungi hak-hak mereka yang sekian lama tak terproteksi. Saat ditanya mengenai sumber untuk mendapatkan dana sekian persen itu. Secara diplomatis sang kandidat menjawab bahwa ia dan timnya sudah mengkaji hal itu secara mendalam dan ada beberapa teori yang ia kemukakan mengenai sector-sektor ekonomi yang bisa dioptimalkan sebagai sumber dana. Kemudian sang kandidat memberikan hitung-hitungan singkat mengenai langkah-langkah yang kelak akan diambilnya. Kang Guru tidak begitu paham tentang hitung-hitungan itu. Namun yang jelas dari apa yang disampaikan oleh kandidat-kandidat itu ia menangkap adanya perhatian khusus terhadap pendidikan yang dinilai belum berhasil secara optimal melahirkan generasi-generasi yang tangguh dan siap pakai di masa mendatang.
Kang Guru teringat pada anak gadisnya yang lebih suka menonton acara tv yang menjanjikan kesempatan untuk menjadi bintang pujaan dengan cepat. Semua saluran tv seakan berlomba untuk menayangkan event-event sejenis ini. Mulai dari AFI, Indonesian Idol, Indonesian Model, KDI, dan entah acara apa lagi yang bakalan muncul. Acara tv yang diadopsi dari luar itu telah membius jutaan remaja Indonesia di seluruh penjuru tanah air dengan angan-angan menjadi bintang pujaan yang terkenal dan mendapatkan banyak uang sehingga dapat mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan finansial mereka sekaligus membuktikan bahwa mereka bisa menjadi “sesuatu” yang dihargai orang banyak. Secara sekilas ia bisa menangkap sebuah gejala yang menempatkan ajang penerbitan bintang secara pintas ini sebagai sesuatu yang lebih menjanjikan bagi mereka daripada mengandalkan ijazah pendidikan yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun di bangku sekolah formal. Banyaknya sarjana yang menganggur ataupun yang bekerja namun dengan gaji di bawah UMR semakin memperburuk wajah pedidikan di Indonesia. Ia tidak mengingkari adanya seleksi alam yang akan menggilas mereka yang tidak memiliki kreatifitas sehingga tidak bisa bersaing dengan yang lain. Namun jika mereka yang tidak berhasil ini telah menghabiskan tahun-tahun panjang mereka di bangku sekolah yang kemudian tidak bisa menciptakan mereka menjadi seorang yang mandiri dan kreatif, bukankah ini bisa menjadi indikasi gagalnya sebuah institusi pendidikan? Dan ini juga menjadi indikasi gagalnya peran pelaku pendidikan seperti dirinya? Setahunya ia sudah mencurahkan segenap kemampuannya untuk mendidik murid-muridnya. Ketika seorang guru tidak bisa maksimal bekerja karena terbatasnya sarana dan prasana pendidikan di sekolahnya, apakah ia masih disalahkan sebagai pendidik yang tidak berhasil? Ketika ia merasakan kejenuhan karena minimnya usaha pemberdayaan guru, apakah ia disalahkan karena gaya mengajarnya dianggap sudah ketinggalan zaman? Ketika sesekali ia lalai karena harus mencari tambahan uang untuk biaya pendidikan anaknya, apakah ia juga akan dituduh sebagai orang yang tidak punya komitmen pada pendidikan?
Kang Guru menghela napas mengakhiri kecamuk pikirannya. Ada “sesuatu” yang menggelitik di benaknya. Sebuah kenyataan bahwa apa yang diangankan anak gadisnya dan jutaan remaja lainnya tidak jauh beda dengan apa yang dilakukannya sekarang. Mereka sama-sama dilambungkan angan-angan yang menjanjikan perbaikan dan peningkatan taraf hidup, meskipun dengan cara mereka masing-masing. Jika para remaja itu menggantungkan sejuta harapan pada acara tv yang menjanjikan gemerlapnya bintang itu, ia sendiri menggantungkan harapan pada para kandidat capres dan cawapres agar benar-benar melaksanakan janji-janji politik yang mereka sampaikan dengan tegas, lugas, dan penuh percaya diri itu jika nanti mereka sudah terpilih sebagai ulil amri-nya negara Republik Indonesia ini. “Kalau tidak kau tepati, sampai ke akhiratpun akan ku tagih janji-janjimu itu. Biar Tuhan nanti yang menagihnya”, batin Kang Guru seraya menyerahkan remote control tv pada anaknya yang kemudian menyambutnya dengan sukacita.
Paiton, Mei ’04
By:
mfauziyah
Di layar tv tampak seorang kandidat capres yang sedang mengemukakan secara singkat, padat, dan tepat mengenai visi dan misinya seandainya ia nanti terpilih sebagai presiden RI. Dilanjutkan dengan dialog langsung dengan beberapa pakar dan mahasiswa yang hadir di acara itu. Acara ini bukan yang pertama kalinya Kang Guru ikuti. Sudah ada empat kandidat capres dan cawapres yang pada malam sebelumnya juga menguraikan visi dan misi mereka. Ada fenomena menarik yang ia tangkap saat mendengarkan para kandidat itu berbicara. Ada semacam kesamaan visi dan misi saat mereka ditanya mengenai langkah yang akan mereka ambil untuk membenahi pendidikan di negeri ini. Umumnya jawaban yang mereka berikan melambungkan angan-angan seorang guru kecil seperti dirinya. Harapan untuk melihat pencerahan pada pekerjaan yang telah ia tekuni selama bertahun-tahun untuk mendidik generasi harapan bangsa agar menjadi orang-orang yang siap mengarungi hidup dan membawa negeri ini keluar dari berbagai kemelut yang membelitnya terlihat semakin menyala saat ia melihat dan mendengarkan para tokoh harapan rakyat itu berbicara dengan tegas dan penuh percaya diri tentang komitmen mereka terhadap keberlangsungan pendidikan di Indonesia. Sejenak ia lupa dengan kondisi sekolah tempatnya mengajar yang begitu sangat sederhana dengan sarana prasarana yang seadanya. Di benaknya saat ini tergambar sebuah gedung sekolah yang telah direnovasi dan tidak bocor lagi saat musim hujan. Dan tampak pula di sana ia sedang menyampaikan materi dengan penuh semangat dengan menerapkan PAKEM yang didapatnya dari pelatihan yang dibiayai oleh pemerintah. Ia juga melihat senyum istrinya yang tampak semakin manis saat ia menyerahkan gaji bulanannya yang jumlahnya meningkat daripada sebelumnya.
“Tehnya, Mas”. Lamunannya sirna begitu didengarnya suara istrinya. Wanita ini begitu setia mendampinginya meskipun belanja bulanan yang ia berikan tidak menyisakan sepeserpun untuk membawanya berbelanja keperluannya sendiri seperti yang diinginkan kebanyakan perempuan lain. “Terima kasih Ya Tuhan karena engkau berikan dia sebagai pemacu semangat hidupku”, ia merasa sangat mensyukuri keberadaan wanita ini. Istrinya adalah anugerah terbesar yang sempat ia lupakan perannya. Ia begitu menyadarinya saat menemukan kenyataan salah seorang rekan kerjanya yang digugat cerai istrinya karena masalah ekonomi.
Sambil menikmati teh panasnya, ia kembali berkonsentrasi pada dialog di tv. Kali ini sang kandidat menekankan bahwa sudah saatnya anggaran belanja untuk pendidikan ditingkatkan. Ia menjelaskan bshwa paling tidak 20 persen dari APBN nanti akan dialokasikan ke dunia pendidikan meskipun pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. Anggaran pendidikan itu nantinya akan di alokasikan untuk merenovasi gedung-gedung sekolah yang sudah tidak layak pakai, untuk pemberdayaan guru, dan juga untuk peningkatan kesejahteraan mereka. Ia juga mengatakan bahwa sudah saatnya memerintah menerbitkan UU untuk guru, untuk melindungi hak-hak mereka yang sekian lama tak terproteksi. Saat ditanya mengenai sumber untuk mendapatkan dana sekian persen itu. Secara diplomatis sang kandidat menjawab bahwa ia dan timnya sudah mengkaji hal itu secara mendalam dan ada beberapa teori yang ia kemukakan mengenai sector-sektor ekonomi yang bisa dioptimalkan sebagai sumber dana. Kemudian sang kandidat memberikan hitung-hitungan singkat mengenai langkah-langkah yang kelak akan diambilnya. Kang Guru tidak begitu paham tentang hitung-hitungan itu. Namun yang jelas dari apa yang disampaikan oleh kandidat-kandidat itu ia menangkap adanya perhatian khusus terhadap pendidikan yang dinilai belum berhasil secara optimal melahirkan generasi-generasi yang tangguh dan siap pakai di masa mendatang.
Kang Guru teringat pada anak gadisnya yang lebih suka menonton acara tv yang menjanjikan kesempatan untuk menjadi bintang pujaan dengan cepat. Semua saluran tv seakan berlomba untuk menayangkan event-event sejenis ini. Mulai dari AFI, Indonesian Idol, Indonesian Model, KDI, dan entah acara apa lagi yang bakalan muncul. Acara tv yang diadopsi dari luar itu telah membius jutaan remaja Indonesia di seluruh penjuru tanah air dengan angan-angan menjadi bintang pujaan yang terkenal dan mendapatkan banyak uang sehingga dapat mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan finansial mereka sekaligus membuktikan bahwa mereka bisa menjadi “sesuatu” yang dihargai orang banyak. Secara sekilas ia bisa menangkap sebuah gejala yang menempatkan ajang penerbitan bintang secara pintas ini sebagai sesuatu yang lebih menjanjikan bagi mereka daripada mengandalkan ijazah pendidikan yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun di bangku sekolah formal. Banyaknya sarjana yang menganggur ataupun yang bekerja namun dengan gaji di bawah UMR semakin memperburuk wajah pedidikan di Indonesia. Ia tidak mengingkari adanya seleksi alam yang akan menggilas mereka yang tidak memiliki kreatifitas sehingga tidak bisa bersaing dengan yang lain. Namun jika mereka yang tidak berhasil ini telah menghabiskan tahun-tahun panjang mereka di bangku sekolah yang kemudian tidak bisa menciptakan mereka menjadi seorang yang mandiri dan kreatif, bukankah ini bisa menjadi indikasi gagalnya sebuah institusi pendidikan? Dan ini juga menjadi indikasi gagalnya peran pelaku pendidikan seperti dirinya? Setahunya ia sudah mencurahkan segenap kemampuannya untuk mendidik murid-muridnya. Ketika seorang guru tidak bisa maksimal bekerja karena terbatasnya sarana dan prasana pendidikan di sekolahnya, apakah ia masih disalahkan sebagai pendidik yang tidak berhasil? Ketika ia merasakan kejenuhan karena minimnya usaha pemberdayaan guru, apakah ia disalahkan karena gaya mengajarnya dianggap sudah ketinggalan zaman? Ketika sesekali ia lalai karena harus mencari tambahan uang untuk biaya pendidikan anaknya, apakah ia juga akan dituduh sebagai orang yang tidak punya komitmen pada pendidikan?
Kang Guru menghela napas mengakhiri kecamuk pikirannya. Ada “sesuatu” yang menggelitik di benaknya. Sebuah kenyataan bahwa apa yang diangankan anak gadisnya dan jutaan remaja lainnya tidak jauh beda dengan apa yang dilakukannya sekarang. Mereka sama-sama dilambungkan angan-angan yang menjanjikan perbaikan dan peningkatan taraf hidup, meskipun dengan cara mereka masing-masing. Jika para remaja itu menggantungkan sejuta harapan pada acara tv yang menjanjikan gemerlapnya bintang itu, ia sendiri menggantungkan harapan pada para kandidat capres dan cawapres agar benar-benar melaksanakan janji-janji politik yang mereka sampaikan dengan tegas, lugas, dan penuh percaya diri itu jika nanti mereka sudah terpilih sebagai ulil amri-nya negara Republik Indonesia ini. “Kalau tidak kau tepati, sampai ke akhiratpun akan ku tagih janji-janjimu itu. Biar Tuhan nanti yang menagihnya”, batin Kang Guru seraya menyerahkan remote control tv pada anaknya yang kemudian menyambutnya dengan sukacita.
Paiton, Mei ’04
By:
mfauziyah